Dibawah ini hanyalah sebuah contoh, waktu dan tempat hanya fiktif jadi mohonharap maklum.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Istilah “Hot Spot On the Bus” ini sering kali saya jumpai
di bus-bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Indonesia, fasilitas yang
memanjakan penumpang bus ini sekarang mulai ramai digunakan oleh bus-bus di
Indonesia khususnya bus-bus pariwisata dan bus AKAP dengan jarak tempuh yang
cukup jauh. Dijaman modern seperti saat ini membuat para pemilik bus
berlomba-lomba memberikan fasilitas yang terbaik. Namun penambahan fasilitas
seperti Wifi pada bus ini tentunya akan menambah pengeluaran operasional
perusahaan yang akan berdampak naiknya harga tiket penumpang bagi yang ingin
menikmati fasilitas yang sangat memanjakan penumpang ini. Berapakah biaya yang
harus dikeluarkan oleh Perusahaan Otobus (PO) untuk membangun sebuah jaringan
berjalan dan bagaimana cara pemasangan Wifi yang biasanya disediakan
dicafe-café atau restoran ternama namun digunakan didalam bus ? Maka dari itu
saya ingin meneliti tentang “Hot Spot on the Bus” yang saat ini marak digunakan
didalam bus-bus berkelas executive dan bus pariwisata.
B. Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, masalah-masalah pada penelitian ini dapat
diidentifikasi sebagai berikut :
a. Perlunya
fasilitas internet didalam bus untuk menemani perjalan penumpang bus.
b. Cara-cara
memasang fasilitas Wifi didalam bus.
c. Biaya
yang dikeluarkan untuk membangun Wifi didalam bus.
d. Kestabilan
koneksifitas didaerah yang dilalui oleh bus tersebut.
e. Efektifitas
dari fasilitas ini bagi penumpang awam.
f. Pemanfaatan
fasilitas wifi untuk menghilangkan kejenuhan penumpang didalam perjalanan.
C. Batasan
Masalah
Mengingat
masalah yang tercakup dalam penelitian ini sangat luas maka penulis
membatasinya sebagai berikut.
a. Objek
penelitian ini adalah bagaimana pengaruh fasilitas wifi didalam bus untuk
menarik penumpang beralih ke moda transportasi umum khususnya menggunakan bus.
b. Objek
penelitian ini adalah bagaimana cara untuk memasang fasilitas wifi didalam bus
.
c. Untuk
mengetahui bagaimana efektifitas fasilitas ini bagi para penumpang dan bagi
pemilik perusahaan otobus.
d. Untuk
mengetahui biaya yang dikeluarkan oleh PO dalam membangun jaringan didalam bus.
D. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
cara untuk memasangkan fasilitas Wifi dan internet didalam bus ?
2. Bagaimana
pengaruh fasilitas Wifi didalam bus untuk menarik penumpang beralih menggunakan
bus ?
3. Bagaimana
penumpang dapat memanfaatan fasilitas Wifi didalam bus saat perjalanan ?
4. Berapa
biaya yang dibutuhkan dalam memasang Wifi didalam bus ?
E. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
latar belakang masalah dari penelitian ini maka tujuan penelitian didapat untuk
:
1. Mengetahui
bagaimana cara memasang Wifi didalam bus.
2. Mengetahui
cara kerja Wifi didalam bus.
F. Kegunaan
Penelitian
Penulisan
proposal penelitian dengan judul “Pengaruh Fasilitas Hot Spot on the Bus” ini
diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
a. Menumbuhkan
minat para calon penumpang untuk pindah menggunakan transportasi umum dengan
fasilitas yang semakin lebih baik dan memanjakan penumpang.
b. Untuk
membuat para calon penumpang tertarik menggunakan transportasi bus untuk
mengurangi polusi dan kemacetan yang semakin hari semakin bertambah.
c. Mendorong
semua pemilik perusahaan otobus untuk memasangkan fasilitas Wifi agar menarik
minat para calon penumpang.
d. Agar
para pembaca dapat mengetahui bagaimana proses pemasangan dan penggunaan Wifi
didalam bus.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan
Teori
1. Pengertian
WiFi
Wireless Fidelity atau yang lebih dikenal WiFi adalah sebuah teknologi terkenal yang
memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel (menggunakan
gelombang radio) melalui sebuah jaringan komputer, termasuk koneksi Internet
berkecepatan tinggi. Wi-Fi Alliance mendefinisikan Wi-Fi sebagai "produk
jaringan wilayah lokal nirkabel (WLAN) apapun yang didasarkan pada standar
Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) 802.11". Meski begitu, karena kebanyakan WLAN
zaman sekarang didasarkan pada standar tersebut, istilah "Wi-Fi"
dipakai dalam bahasa Inggris umum sebagai sinonim "WLAN".
Sebuah alat yang dapat memakai Wi-Fi
(seperti komputer pribadi, konsol permainan video, telepon pintar, tablet, atau
pemutar audio digital) dapat terhubung dengan sumber jaringan seperti Internet
melalui sebuah titik akses jaringan nirkabel. Titik akses (atau hotspot)
seperti itu mempunyai jangkauan sekitar 20 meter (65 kaki) di dalam
ruangan dan lebih luas lagi di luar ruangan. Cakupan hotspot dapat mencakup
wilayah seluas kamar dengan dinding yang memblokir gelombang radio atau
beberapa mil persegi — ini bisa dilakukan dengan memakai beberapa titik akses
yang saling tumpang tindih.
"Wi-Fi" adalah merek dagang
Wi-Fi Alliance dan nama merek untuk produk-produk yang memakai keluarga standar
IEEE 802.11. Hanya produk-produk Wi-Fi yang menyelesaikan uji coba sertifikasi
interoperabilitas Wi-Fi Alliance yang boleh memakai nama dan merek dagang
"Wi-Fi CERTIFIED".
Wi-Fi mempunyai sejarah keamanan yang
berubah-ubah. Sistem enkripsi pertamanya, WEP, terbukti mudah ditembus.
Protokol berkualitas lebih tinggi lagi, WPA dan WPA2, kemudian ditambahkan.
Tetapi, sebuah fitur opsional yang ditambahkan tahun 2007 bernama Wi-Fi
Protected Setup (WPS), memiliki celah yang memungkinkan penyerang mendapatkan
kata sandi WPA atau WPA2 router dari jarak jauh dalam beberapa jam saja. Sejumlah perusahaan menyarankan untuk
mematikan fitur WPS. Wi-Fi Alliance sejak itu memperbarui rencana pengujian dan
program sertifikasinya untuk menjamin semua peralatan yang baru disertifikasi
kebal dari serangan AP PIN yang keras.
2. Hot
Spot on the Bus.
WiFi didalam
bus kali ini memang sering kita jumpai distiker kaca bus-bus yang lalu-lalang
dijalanan Indonesia. Fasilitas yang saat ini ramai diberikan oleh
perusahaan-perusaan otobus di Indonesia ini mulai diminati oleh masyarakat yang
mementingkan kenyamanan dan yang memeningkan fasilitas yang prima untuk
menemani perjalan keluar kotanya.
Fasilitas yang
dimiliki oleh bus-bus berkelas executive class ini biasanya mematok harga yang
cukup tinggi namun masih terbilang terjangkau karna fasilitas Wifi ini biasanya
pun diikuti fasilitas-fasilitas lain yang memanjakan penumpangnya seperti
fasilitas power plug jadi para penumpang tidak perlu khawatir akan kehabisan
baterai pada gadgetnya karna terdapan power plug yang disediakan didalam kabin
bus. Selain power plug ada pula fasilitas bantal dan selimut untuk menambah
kenyamanan penumpang didalam perjalanan jauh, serta terdapat air conditioner
(ac) dan gratis makan 1x untuk menambah memanjakan penumpangnya. Hot Spot on
the Bus ini dipilih karena maraknya pengguna smartphone di Indonesia yang
menggunakan internet agar smartphone lebih maksimal.
B. Cara
Pemansangan WiFi pada Bus.
Untuk memasang peralatan WiFi di bus cukup mudah
dan harganya relatif terjangkau. Iswahyudi Suseno, seorang instalator WiFi pada bus menyebut
angka di kisaran Rp. 1 juta-an, tergantung jenis peralatan yang dipasang. Ada
banyak jenis dan merk modem
bergerak yang bisa memancarkan sinyal koneksi internet jaringan lokal nirkabel.
Modem tersedia
pula dengan harga yang bervariasi. ”Pemasangan sangat mudah, syaratnya ada supply listrik untuk modem
dengan daya 5 Volt 2 ampere,” katanya.
Yudi, panggilan akrab Iswahyudi,
mengatakan mayoritas klien-nya adalah operator-operator bus pariwisata. Dia
mengaku, memulai memasang peralatan ini berawal membantu seorang rekannya.
Kebetulan, sehari-hari dia berkutat dengan jaringan lokal internet di
perkantoran.
Menurut Yudi, dua tahun terakhir
permintaan meningkat. Sayangnya, ketersediaan modem yang cocok untuk bus tidaklah banyak di
pasaran. Ketebatasan ini membuat pemasangan internet jaringan lokal
nirkabel ini sangat tergantung ketersediaan peralatan.
1. Prinsip
Kerja WiFi pada Bus.
Prinsip kerja WiFi pada bus,
menurut Yudi tak ada bedanya dengan WiFi
di rumah, rumah makan maupun perkantoran. Hanya saja, modem yang digunakan harus
cocok dengan pergerakan bus. Ada radius jangkauan sinyal yang dipancarkan modem. Biasanya, kata dia,
bisa menjangkau 200 meter. Karena itu, diperlukan kata sandi sebelum memasuki
internet jaringan lokal yang dipancarkan modem.
Tujuannya untuk pengendalian, memastikan agar pengguna jaringan lokal ini
adalah penumpang bus yang bersangkutan, bukan orang lain di luar bus. Kelebihan
beban penggunaan, kata dia, bisa menghambat laju akses internet.
Untuk mengaktifkan modem, cukup berlangganan koneksi internet dari operator telepon seluler. “Cukup dengan 100 ribu rupiah atau paket-paket lain koneksi internet sesuai kebutuhan,” begitu ayah dua putra ini menjelaskan.
Untuk mengaktifkan modem, cukup berlangganan koneksi internet dari operator telepon seluler. “Cukup dengan 100 ribu rupiah atau paket-paket lain koneksi internet sesuai kebutuhan,” begitu ayah dua putra ini menjelaskan.
2. Pengaruh
Fasilitas WiFi Terhadap Minat Masyarakat.
Untuk saat ini
minat masyarakat terhadap moda transportasi umum terutama bus memang cenderung
menurun, hal ini disebabkan karena waktu tempuh yang relative lebih lama dibandingkan
dengan pesawat ataupun kereta api. Namun jika dibandingkan dengan moda
transportasi lain bus saat ini memiliki tingkat kenyamanan yang cukup tinggi,
beberapa orang lebih memilih bus dibandingkan moda transportasi yang lain
karena fasilitas yang disuguhkan oleh perusahaan-perusahaan otobus saat ini
sangat memanjakan penumpangnya, jadi walaupun jalanan diluar sana macet apalagi
disaat musim liburan seperti sekarang ini atau disaat musim mudik lebaran,
penumpang tidak akan merasa jenuh atau bosan karena tetap dapat menggunakan
koneksi internet secara gratis yang
disediakan oleh pihak perusahaan otobus. WiFi saat ini memang menjadi keharusan
bagi bus-bus executive class atau bus pariwisata untuk memanjakan penumpangnya.
3. Menggunakan
Fasilitas Wifi didalam Bus.
Cara
menggunakan fasilitas Wifi didalam bus tidaklah sulit seperti halnya kita
menggunakan fasilitas ini yang tersedia di kampus-kampus maupun di café-café.
Cukup dengan menyalakan wifi pada gadget kita lalu sambungkan dengan SSID yang
berada didalam bus. Setelah itu masukan password security wifi tersebut dengan
menanyakan kepada crew bus.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat
dan Waktu Penelitian.
1. Tempat
Penelitian
Penelitian
terhadap pengaruh Hot Spot on the Bus ini dilaksanakan di terminal didaerah
Jakarta Selatan.
2. Waktu
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Desember 2015.
B. Metode
Penelitian.
Penelitian ini
dilakaukan dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Peneliti
melakukan survey ke terminal yang menjadi objek penelitian lalu melakukan
analisis terhadap bus-bus yang menggunakan wifi sebagai fasilitas yang
disediakan untuk penumpang. Analisis ini mencakup bagaimana cara memasang wifi
pada bus dan pengaruh fasilitas ini terhadap minat masyarakat.
C. Populasi,
Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel.
Populasi dan
wilayah generalisasi penelitian ini adalah bus, para crew, pemilik bus, dan
penumpang atau masyarakat. Dalam penelitian ini seluruh populasi yang telah
disebutkan akan diteliti seluruhnya atay seluruh populasi akan menjadi sampel.
Jadi dalam penelitian ini mengambil sampel bus sebanyak 6 unit.
D. Pengumpulan
Data dan Instrumen Penelitian.
Pada
penelitian ini, instrument yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan
mewawancarai yang terlibat dalam tema yang saya ambil ini. Wawancara ini berisi
beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh para narasumber yang telah
ditentukan sebagai sampel dalam penelitian ini. Wawancara ini diperlukan untuk
mendapatkan data yang kami butuhkan dalam meneliti cara dan kegunaan hot spot
on the bus.
E. Analisis
Data
Dalam penelitian ini kegiatan analisis
data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data di lapangan. Dari data yang
terkumpul kemudian dianalis dengan cara (1) mereduksi data, (2) display data,
(3) kesimpulan dan verivikasi.
Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Wi-Fi
http://www.haltebus.com/detail136.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar