Sabtu, 26 Desember 2015

Contoh Proposal Penelitian

Disini Saya akan memberikan contoh Proposal Penelitian.
Dibawah ini hanyalah sebuah contoh, waktu dan tempat hanya fiktif jadi mohonharap maklum.






BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Istilah “Hot Spot On the Bus” ini sering kali saya jumpai di bus-bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Indonesia, fasilitas yang memanjakan penumpang bus ini sekarang mulai ramai digunakan oleh bus-bus di Indonesia khususnya bus-bus pariwisata dan bus AKAP dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Dijaman modern seperti saat ini membuat para pemilik bus berlomba-lomba memberikan fasilitas yang terbaik. Namun penambahan fasilitas seperti Wifi pada bus ini tentunya akan menambah pengeluaran operasional perusahaan yang akan berdampak naiknya harga tiket penumpang bagi yang ingin menikmati fasilitas yang sangat memanjakan penumpang ini. Berapakah biaya yang harus dikeluarkan oleh Perusahaan Otobus (PO) untuk membangun sebuah jaringan berjalan dan bagaimana cara pemasangan Wifi yang biasanya disediakan dicafe-café atau restoran ternama namun digunakan didalam bus ? Maka dari itu saya ingin meneliti tentang “Hot Spot on the Bus” yang saat ini marak digunakan didalam bus-bus berkelas executive dan bus pariwisata.

B.   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, masalah-masalah pada penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :
a.    Perlunya fasilitas internet didalam bus untuk menemani perjalan penumpang bus.
b.    Cara-cara memasang fasilitas Wifi didalam bus.
c.    Biaya yang dikeluarkan untuk membangun Wifi didalam bus.
d.    Kestabilan koneksifitas didaerah yang dilalui oleh bus tersebut.
e.    Efektifitas dari fasilitas ini bagi penumpang awam.
f.     Pemanfaatan fasilitas wifi untuk menghilangkan kejenuhan penumpang didalam perjalanan.

C.   Batasan Masalah

Mengingat masalah yang tercakup dalam penelitian ini sangat luas maka penulis membatasinya sebagai berikut.
a.    Objek penelitian ini adalah bagaimana pengaruh fasilitas wifi didalam bus untuk menarik penumpang beralih ke moda transportasi umum khususnya menggunakan bus.
b.    Objek penelitian ini adalah bagaimana cara untuk memasang fasilitas wifi didalam bus .
c.    Untuk mengetahui bagaimana efektifitas fasilitas ini bagi para penumpang dan bagi pemilik perusahaan otobus.
d.    Untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan oleh PO dalam membangun jaringan didalam bus.

D.   Rumusan Masalah

1.    Bagaimana cara untuk memasangkan fasilitas Wifi dan internet didalam bus ?
2.    Bagaimana pengaruh fasilitas Wifi didalam bus untuk menarik penumpang beralih menggunakan bus ?
3.    Bagaimana penumpang dapat memanfaatan fasilitas Wifi didalam bus saat perjalanan ?
4.    Berapa biaya yang dibutuhkan dalam memasang Wifi didalam bus ?






E.   Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dari penelitian ini maka tujuan penelitian didapat untuk :
1.    Mengetahui bagaimana cara memasang Wifi didalam bus.
2.    Mengetahui cara kerja Wifi didalam bus.

F.    Kegunaan Penelitian

Penulisan proposal penelitian dengan judul “Pengaruh Fasilitas Hot Spot on the Bus” ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
a.    Menumbuhkan minat para calon penumpang untuk pindah menggunakan transportasi umum dengan fasilitas yang semakin lebih baik dan memanjakan penumpang.
b.    Untuk membuat para calon penumpang tertarik menggunakan transportasi bus untuk mengurangi polusi dan kemacetan yang semakin hari semakin bertambah.
c.    Mendorong semua pemilik perusahaan otobus untuk memasangkan fasilitas Wifi agar menarik minat para calon penumpang.
d.    Agar para pembaca dapat mengetahui bagaimana proses pemasangan dan penggunaan Wifi didalam bus.










BAB II
LANDASAN TEORI

A.   Landasan Teori
1.    Pengertian WiFi
Wireless Fidelity atau yang lebih dikenal WiFi adalah sebuah teknologi terkenal yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel (menggunakan gelombang radio) melalui sebuah jaringan komputer, termasuk koneksi Internet berkecepatan tinggi. Wi-Fi Alliance mendefinisikan Wi-Fi sebagai "produk jaringan wilayah lokal nirkabel (WLAN) apapun yang didasarkan pada standar Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) 802.11". Meski begitu, karena kebanyakan WLAN zaman sekarang didasarkan pada standar tersebut, istilah "Wi-Fi" dipakai dalam bahasa Inggris umum sebagai sinonim "WLAN".
Sebuah alat yang dapat memakai Wi-Fi (seperti komputer pribadi, konsol permainan video, telepon pintar, tablet, atau pemutar audio digital) dapat terhubung dengan sumber jaringan seperti Internet melalui sebuah titik akses jaringan nirkabel. Titik akses (atau hotspot) seperti itu mempunyai jangkauan sekitar 20 meter (65 kaki) di dalam ruangan dan lebih luas lagi di luar ruangan. Cakupan hotspot dapat mencakup wilayah seluas kamar dengan dinding yang memblokir gelombang radio atau beberapa mil persegi — ini bisa dilakukan dengan memakai beberapa titik akses yang saling tumpang tindih.
"Wi-Fi" adalah merek dagang Wi-Fi Alliance dan nama merek untuk produk-produk yang memakai keluarga standar IEEE 802.11. Hanya produk-produk Wi-Fi yang menyelesaikan uji coba sertifikasi interoperabilitas Wi-Fi Alliance yang boleh memakai nama dan merek dagang "Wi-Fi CERTIFIED".
Wi-Fi mempunyai sejarah keamanan yang berubah-ubah. Sistem enkripsi pertamanya, WEP, terbukti mudah ditembus. Protokol berkualitas lebih tinggi lagi, WPA dan WPA2, kemudian ditambahkan. Tetapi, sebuah fitur opsional yang ditambahkan tahun 2007 bernama Wi-Fi Protected Setup (WPS), memiliki celah yang memungkinkan penyerang mendapatkan kata sandi WPA atau WPA2 router dari jarak jauh dalam beberapa jam saja. Sejumlah perusahaan menyarankan untuk mematikan fitur WPS. Wi-Fi Alliance sejak itu memperbarui rencana pengujian dan program sertifikasinya untuk menjamin semua peralatan yang baru disertifikasi kebal dari serangan AP PIN yang keras.

2.    Hot Spot on the Bus.
WiFi didalam bus kali ini memang sering kita jumpai distiker kaca bus-bus yang lalu-lalang dijalanan Indonesia. Fasilitas yang saat ini ramai diberikan oleh perusahaan-perusaan otobus di Indonesia ini mulai diminati oleh masyarakat yang mementingkan kenyamanan dan yang memeningkan fasilitas yang prima untuk menemani perjalan keluar kotanya.
Fasilitas yang dimiliki oleh bus-bus berkelas executive class ini biasanya mematok harga yang cukup tinggi namun masih terbilang terjangkau karna fasilitas Wifi ini biasanya pun diikuti fasilitas-fasilitas lain yang memanjakan penumpangnya seperti fasilitas power plug jadi para penumpang tidak perlu khawatir akan kehabisan baterai pada gadgetnya karna terdapan power plug yang disediakan didalam kabin bus. Selain power plug ada pula fasilitas bantal dan selimut untuk menambah kenyamanan penumpang didalam perjalanan jauh, serta terdapat air conditioner (ac) dan gratis makan 1x untuk menambah memanjakan penumpangnya. Hot Spot on the Bus ini dipilih karena maraknya pengguna smartphone di Indonesia yang menggunakan internet agar smartphone lebih maksimal.







B.   Cara Pemansangan WiFi pada Bus.
Untuk memasang peralatan WiFi di bus cukup mudah dan harganya relatif terjangkau. Iswahyudi Suseno, seorang instalator WiFi pada bus menyebut angka di kisaran Rp. 1 juta-an, tergantung jenis peralatan yang dipasang. Ada banyak jenis dan merk modem bergerak yang bisa memancarkan sinyal koneksi internet jaringan lokal nirkabel. Modem tersedia pula dengan harga yang bervariasi. ”Pemasangan sangat mudah, syaratnya ada supply listrik untuk modem dengan daya 5 Volt 2 ampere,” katanya.
Yudi, panggilan akrab Iswahyudi, mengatakan mayoritas klien-nya adalah operator-operator bus pariwisata. Dia mengaku, memulai memasang peralatan ini berawal membantu seorang rekannya. Kebetulan, sehari-hari dia berkutat dengan jaringan lokal internet di perkantoran.
Menurut Yudi, dua tahun terakhir permintaan meningkat. Sayangnya, ketersediaan modem yang cocok untuk bus tidaklah banyak di pasaran. Ketebatasan ini membuat pemasangan internet jaringan lokal  nirkabel ini sangat tergantung ketersediaan peralatan.

1.    Prinsip Kerja WiFi pada Bus.
Prinsip kerja WiFi  pada bus, menurut Yudi tak ada bedanya dengan WiFi di rumah, rumah makan maupun perkantoran. Hanya saja, modem yang digunakan harus cocok dengan pergerakan bus. Ada radius jangkauan sinyal yang dipancarkan modem. Biasanya, kata dia, bisa menjangkau 200 meter. Karena itu, diperlukan kata sandi sebelum memasuki internet jaringan lokal yang dipancarkan modem. Tujuannya untuk pengendalian, memastikan agar pengguna jaringan lokal ini adalah penumpang bus yang bersangkutan, bukan orang lain di luar bus. Kelebihan beban penggunaan, kata dia, bisa menghambat laju akses internet.

Untuk mengaktifkan modem, cukup berlangganan koneksi internet dari operator telepon seluler. “Cukup dengan 100 ribu rupiah atau paket-paket lain koneksi internet sesuai kebutuhan,” begitu ayah dua putra ini menjelaskan.

2.    Pengaruh Fasilitas WiFi Terhadap Minat Masyarakat.
Untuk saat ini minat masyarakat terhadap moda transportasi umum terutama bus memang cenderung menurun, hal ini disebabkan karena waktu tempuh yang relative lebih lama dibandingkan dengan pesawat ataupun kereta api. Namun jika dibandingkan dengan moda transportasi lain bus saat ini memiliki tingkat kenyamanan yang cukup tinggi, beberapa orang lebih memilih bus dibandingkan moda transportasi yang lain karena fasilitas yang disuguhkan oleh perusahaan-perusahaan otobus saat ini sangat memanjakan penumpangnya, jadi walaupun jalanan diluar sana macet apalagi disaat musim liburan seperti sekarang ini atau disaat musim mudik lebaran, penumpang tidak akan merasa jenuh atau bosan karena tetap dapat menggunakan koneksi internet  secara gratis yang disediakan oleh pihak perusahaan otobus. WiFi saat ini memang menjadi keharusan bagi bus-bus executive class atau bus pariwisata untuk memanjakan penumpangnya.

3.    Menggunakan Fasilitas Wifi didalam Bus.
Cara menggunakan fasilitas Wifi didalam bus tidaklah sulit seperti halnya kita menggunakan fasilitas ini yang tersedia di kampus-kampus maupun di café-café. Cukup dengan menyalakan wifi pada gadget kita lalu sambungkan dengan SSID yang berada didalam bus. Setelah itu masukan password security wifi tersebut dengan menanyakan kepada crew bus.









BAB III
METODE PENELITIAN

A.   Tempat dan Waktu Penelitian.

1.    Tempat Penelitian
Penelitian terhadap pengaruh Hot Spot on the Bus ini dilaksanakan di terminal didaerah Jakarta Selatan.
2.    Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015.

B.   Metode Penelitian.

Penelitian ini dilakaukan dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Peneliti melakukan survey ke terminal yang menjadi objek penelitian lalu melakukan analisis terhadap bus-bus yang menggunakan wifi sebagai fasilitas yang disediakan untuk penumpang. Analisis ini mencakup bagaimana cara memasang wifi pada bus dan pengaruh fasilitas ini terhadap minat masyarakat.

C.   Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel.

Populasi dan wilayah generalisasi penelitian ini adalah bus, para crew, pemilik bus, dan penumpang atau masyarakat. Dalam penelitian ini seluruh populasi yang telah disebutkan akan diteliti seluruhnya atay seluruh populasi akan menjadi sampel. Jadi dalam penelitian ini mengambil sampel bus sebanyak 6 unit.






D.   Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian.

Pada penelitian ini, instrument yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan mewawancarai yang terlibat dalam tema yang saya ambil ini. Wawancara ini berisi beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh para narasumber yang telah ditentukan sebagai sampel dalam penelitian ini. Wawancara ini diperlukan untuk mendapatkan data yang kami butuhkan dalam meneliti cara dan kegunaan hot spot on the bus.

E.   Analisis Data

Dalam penelitian ini kegiatan analisis data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data di lapangan. Dari data yang terkumpul kemudian dianalis dengan cara (1) mereduksi data, (2) display data, (3) kesimpulan dan verivikasi.

















Daftar Pustaka


https://id.wikipedia.org/wiki/Wi-Fi
http://www.haltebus.com/detail136.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar