Film : Darah Garuda: Merah Putih II
Sutradara : Yadi Sugandi dan Conor Allyn
Produser executif : Hashim Djojohadikusumo
Penyunting gambar : Sastha Sunu
Koordinator Efek Khusus : Adam Howarth (Saving Private
Ryan, Blackhawk Down)
Ahli Persenjataan : John Bowring (The Matrix, The Thin Red
Line, Australia, Wolverine, Merah Putih)
Tata Rias dan Prostetik : Conor OSullivan (The Dark
Knight, Saving Private Ryan, Braveheart).
Koordinator Laga : Scott McLean (The Matrix, The
Pacific-sekuel terbaru dari Steven Spielberg/Tom Hanks Band Of Brothers),
Asisten Sutradara : Andy Howard (From Hell, Wanted,
Hellboy)
Teknisi Ahli Efek Khusus : Graham Riddell (Robin Hood,
Batman Begins, Star Wars I, Band Of Brothers, Kingdom Of Heaven).
Pemain : Donny Alamsyah, Rahayu Saraswati, T. Rifnu Wikana,
Lukman Sardi, Astri Nurdin, Darius Sinathrya, Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Rudy
Wowor, Alex Komang dan memperkenalkan aktor cilik Aldy Zulfikar.
Film ini memperlihatkan bagaimana semua orang dari usia,
jender, agama, kelas sosial dan etnis berbeda justru bersatu perempuan dan
anak-anak, tua dan muda, Muslim dan Kristen, Hindu maupun agama lain dan
berbagai suku, mengorbankan semuanya bukan demi uang tapi untuk kemerdekaan.
Film ini menyampaikan pesan-pesan toleransi, saling
menghargai, kebersamaan, saling tolong-- nilai-nilai dasar untuk karakter
bangsa yang dimulai dari keluarga, tambah Hasyim.
Indonesia telah memberikan contoh yang luar biasa kepada
dunia dengan nilai-nilai tersebut sejak kelahiran bangsa ini, namun kisah ini
tidak terlalu dikenal dari yang seharusnya, sambung Rob Allyn, produser
eksekutif dan penulis skenario.
Tujuan kami adalah untuk berbagi cerita tentang
kemerdekaan, pengorbanan, persatuan dan toleransi baik bagi generasi Indonesia
saat bersama keluarga, maupun untuk di luar negeri yang telah merespon dengan
positif lewat film pertama Merah Putih, sambung Rob.
Darah Garuda mengikuti sebuah kelompok heroik para kadet
yang menjadi tentara gerilya tahun 1947. Mereka, para pejuang terpecah oleh
rahasia-rahasia mereka di masa lalu dan konflik yang tajam dalam hal
kepribadian, kelas sosial dan agama, keempat lelaki muda bersatu untuk
melancarkan sebuah serangan nekat terhadap kamp tawanan milik Belanda demi
menyelamatkan para perempan yang mereka cintai.
Para kadet ini terhubung dengan kantor pusat Jendral
Sudirman, dimana mereka diberi sebuah tugas sangat rahasia di belakang garis
musuh di Jawa Barat. Sebuah serangan gaya komando pada lapangan udara vital,
yang dapat membalikkan perlawanan para pemberontak melawan kezaliman, yang
telah dilakukan Jendral Van Mook pada Agustus 1947.
Kelompok gerilya ini menembus dalam ke Jawa Barat, dan
bertemu kelompok lain dari separatis Islam, juga sekutu baru maupun yang
potensial berkhianat: mata-mata kolonial dengan pangkatnya sendiri dan sekutu
orang-orang sipil dari jalanan; dan musuh lama yang bertanggung jawab atas
intelejen Belanda.
Dikepung oleh musuh yang mengelilingi, baik musuh dari luar
maupun dari dalam, para pahlawan ini harus bersatu dan saling percaya karena
mereka berjuang melawan intrik, perkelahian jarak dekat, pengkhianatan dan
kekuasaan luar biasa sebuah maha kekaisaran Eropa, demi mengejar satu tujuan:
Kemerdekaan.
Darah Garuda memasangkan keahlian sinematik dari penata
sinematografi terhandal di Indonesia, Yadi Sugandi (Laskar Pelangi, Under The
Tree, The Photograph) dengan kekuatan penyutradaraan dinamis dari bintang baru
Conor Allyn, yang keahlian berceritanya sebagi penulis dan produser trilogi
Merah Putih, memadukan drama dan laga dalam cara bertutur gaya gerak memancang.
Bersama, Yadi Sugandi dan Conor Allyn berhasil
menyutradarai sebuah saga peperangan yang hidup dengan alur cepat di darat,
laut, dan udara, yang merupakan film epik terbesar dan paling profesional dalam
sejarah bangsa, penuh laga, ketegangan, kejutan dan kelokan, intrik, romansa,
humor dan penampilan dramatis oleh para pemain yang mempesona dari bakat
terbaik perfilman Asia Tenggara.
Dibesut dalam format 35-milimeter berdurasi 100 menit, Film
ini menampilkan adegan-adegan action memukau yang melibatkan ahli perfilman
internasional terbaik dalam bidang efek khusus dan tata teknis lain yang
berpengalaman di perfilman Hollywood. Dengan tim penyutradaraan baru Yadi
Sugandi dan Conor Allyn, Darah Garuda dan film ketiga yang nanti akan muncul
dari trilogi ini, Hati Merdeka.
Digawangi oleh para pembuat film profesional Indonesia dan
Hollywood yang terkenal dengan film-film perangnya, dan mengkombinasikannya
dengan jajaran aktor dan kru yang mumpuni ditambah saran-saran teknis dari
Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), yang telah menjadi penasehat teknis
dan historis untuk Trilogi Merdeka, DARAH GARUDA mengingatkan untuk
membangkitkan kembali spirit perjuangan dan nasionalisme yang sekarang ini
mulai pudar.
Film ini adalah pengingat tentang bagaimana para pendiri
bangsa berjuang dengan gagah berani demi persatuan dan kemerdekaan negara kita
terlepas dari berbagai perbedaan agama, etnis, kelas sosial dan budaya, sambung
Hashim, yang kehilangan dua pamannya pada saat perang ketika mereka terbunuh di
Lengkong, Tangerang, Jawa Barat pada 1946, dan ayahnya Sumitro Djojohadikusumo
adalah salah satu Bapak Bangsa.
Tujuan kami adalah untuk menghibur penonton dengan sebuah
film yang mengkombinasikan laga, drama, humor, kisah cinta, tragedi kemanusiaan
dan cerita kehidupan pribadi yang kuat, sehingga kita dapat menginspirasi
seluruh generasi baru dengan spirit generasi sebelum kita yang telah berjuang
dan berkorban demi kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati sekarang ini,"
tambahnya.
http://www.kabarbisnis.com/read/2814126/-resensi-film---darah-garuda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar